Followers

Artikel ini adalah artikel yang ditulis oleh Sdr Dzikrullah pada tahun 2007 sebagai wartawan Hidatullah. Beliau juga mengiringi ketiga-tiga sheikh Palestin dalam road show di Malaysia dalam bulan ramadhan ini.




Pengalaman 2007 Sdra Dzikrullah kini dikecapi pula oleh saudara-saudara yang menjadi urusetia di Malaysia pada 10 - 15 September 2009, yang mengiringi Sheikh Abu Bakar.

-------------------------------------------------------------------------------
Ramadhan bersama Mujahid Palestina

oleh Dzikrullah
sumber: Hidayatullah

Sepekan yang lalu, di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, saya dan beberapa teman melepas seorang sahabat pulang ke medan jihad. Abu Bakr Al-'Awawidah, seorang 'alim mujahid Palestina, usianya baru 47 tahun tapi penampilannya jauh lebih tua dari usia sesungguhnya, karena berkali-kali tubuhnya didera penjara dan berbagai macam siksaan Zionis Israel.

Beliau anggota Rabithatul 'Ulama Filistin (Perhimpunan Ulama Palestina). Ketuanya, Syeikh Hamdi Al-Bithawi, sudah sembilan tahun ini disiksa di penjara Israel, dan masih belum jelas kapan akan dibebaskan.

Sudah sejak tahun 1992, 'alim mujahid Palestina ini bersama istri dan delapan anaknya terpaksa hidup di Damaskus, Suriah, 200 km dari Dora, Khalil, kota kelahirannya.

Singkirkan pikiran Anda yang biasa, bahwa seorang mujahid harus berotot kekar, kemana-mana menenteng senjata, matanya selalu waspada dan bicaranya galak.


Abu Bakr sama sekali berpenampilan beda. Tubuhnya yang jangkung selalu menunduk, bicaranya lembut, murah senyum dan kemana-mana lengannya harus dituntun karena matanya buta akibat dipukuli dan disetrum serdadu Zionis selama 54 hari berturut-turut, pada tahun 1981.

Namun begitu, gelapnya dunia di mata Abu Bakr sama sekali tak mengurangi keteguhannya memberi penerangan ruhiyah dan ilmiyah kepada rakyat Palestina yang terusir dan harus bermukim di Suriah, jumlahnya sekitar 500 ribu orang.

Perjalanan hidup ayah dari delapan anak ini adalah simbol ketangguhan dan kesabaran bangsa Palestina menghadapi penindasan dan perampokan Zionis Israel.

Keturunan mujahid

"Nenek moyang saya adalah snipers yang tergabung dalam angkatan bersenjata Turki, diantara mereka syahid ketika berjuang melawan Inggris," tuturnya.

Pendahulu yang paling dekat dengannya, kakek dan ayahnya, ikut berjihad melawan Inggris dalam Perang Kastall di Al-Quds Barat, 1948. Mereka dipimpin oleh 'alim mujahid Palestina Abdul Qadir al-Husaini. Waktu itu pamannya syahid.

Ketika terjadi peristiwa An-Nakbah, pembakaran Masjidil Aqsa, pada tahun 1967, Abu Bakr baru berusia 7 tahun. Ia masih ingat bagaimana Israel menyerang dan menguasai kawasan-kawasan Tepi Barat, Gaza, Sinai dan Golan.

"Ayah dan abang-abang saya ikut melawan pasukan Israel," kenang Abu Bakr. Sesudah peristiwa itu, mereka tertangkap dan dipenjara.

Abu Bakr memiliki 15 saudara dari dua orang ibu, yang bersaudara seibu dengannya 6 laki-laki, 4 perempuan.

Setamat SMA ia melanjutkan belajar di Ma'had Syari'ah Al-Quds untuk persiapan sebagai imam dan khatib, 1979. Pada masa itulah ia berkenalan dengan gerakan da'wah Al-Ikhwanul Muslimun.

Bersama kolega belajarnya dan para ustadz di ma'had itu mereka mempersiapkan diri berjihad di jalan Allah merebut kembali tanah-tanah Palestina yang dirampas Zionis Israel. Keinginan mereka itu ditolak oleh faksi perjuangan Marxis dan sekular yang waktu itu menguasai sebagian besar struktur Palestinian Liberation Organisation (PLO) yang dipimpin Yasser Arafat.

Sambil terus belajar di ma'had itu, Abu Bakr mengikuti kuliah musim panas di Universitas Beirut jurusan filsafat dan sosiologi. Abu Bakr semakin aktif dalam kegiatan tarbiyah (pendidikan Islam) baik untuk dirinya sendiri, maupun membina pemuda-pemuda Palestina lewat daurah (kursus) al-Quran di masjid-masjid, ma'had-ma'had dan sekolah-sekolah.

Sepanjang sepuluh tahun berikutnya, kegiatan itu mengakibatkan Abu Bakr berkali-kali dipenjara dan disiksa oleh Zionis Israel. Pada tahun 1981 ia dipenjara dan disiksa selama 54 hari, tahun 1982 selama 5 bulan, 1983 selama 15 hari, 1988 selama 6 bulan, tahun 1990 ia ditangkap dua kali: pertama 37 hari, kedua 14 hari, tahun 1991 selama 5 bulan.

Belum lagi, di luar itu ia berkali-kali ditangkap dan disiksa oleh Israel selama beberapa jam.

Puncaknya pada tahun 1992 Syeikh Abu Bakr Al-'Awawidah ditangkap dan diusir ke Marj Az-Zuhur, di perbatasan antara Palestina dan Libanon, bersama 414 orang mujahidin Palestina lain, diantara asy-Syahid dr Abdul Aziz Al-Rantissi.
Di tanah tak bertuan itu mereka dipaksa kerja fisik siang malam di kawasan yang hampir selalu bersalju selama setahun. Sesudah setahun, yang dibolehkan kembali ke Palestina hanya 401 orang. Sedangkan 13 orang lainnya diusir ke berbagai negara, termasuk dirinya ke Suriah. "Jika kami nekat masuk Palestina, mereka mengancam akan langsung membunuh kami," tutur Abu Bakr. [bersambung]

* penulis adalah seorang wartawan dan guru madrasah

Siksaan demi siksaan di Penjara Israel

oleh Dzikrullah

Penangkapan yang pertama kali dialami Syeikh Abu Bakr Al-'Awawidah adalah yang paling fatal (1981). Selama 54 hari ia tanpa henti disiksa dengan keras, tanpa proses pengadilan. Tubuhnya digebuk habis-habisan oleh sekaligus empat atau lima orang serdadu Zionis. Sasaran utama kepala dan alat vital.

"Sakitnya berlipat-lipat jika kita dipukul dan ditendang sambil tangan diikat ke belakang dan kepala saya ditutup dengan kantong plastik," kenangnya. "Sebagai manusia saya hanya bisa bersabar waktu itu."

Akibat dipukuli dengan balok kayu dan disetrum terus-menerus itu, kedua penglihatannya meredup dan lama kelamaan ia buta sama sekali, sampai sekarang.

Begitu juga punggungnya berkali-kali mengalami patah. Akibatnya, jika duduk di lantai atau karpet, Abu Bakr selalu harus mengubah posisinya beberapa kali karena menahan sakit.

Selain dipukuli, waktu itu ia baru berusia 21 tahun, jenggotnya dicabuti lalu disumpalkan ke mulutnya, dipaksa untuk menelannya. "Waktu itu saya disiksa berempat dengan kawan saya ditambah salah seorang ustadz di Ma'had Al-Quds," kenang Abu Bakr.

Di waktu yang lain tangannya diikat di belakang dan dipaksa berdiri terus menerus selama 7 jam. Abu Bakr merasa seluruh persendian dan kulitnya mati rasa, sampai-sampai ketika kencing di celana pun tak bisa dirasakan lagi.

Ia juga pernah dipenjara di ruang isolasi selama 25 hari tanpa cahaya sama sekali, hanya ada celah udara sedikit. Selama itu dia melakukan shalat tanpa berwudhu, hanya tayamum. Kalau tangan diikat maka shalat pun dilakukan dengan berdiri.

Namun Abu Bakr bersyukur kepada Allah atas pengalamannya dipenjara Israel berkali-kali. Bersyukur? Betapa tidak, di penjara-penjara itulah justru ia menambah banyak ilmu, karena koleksi buku yang lengkap. Selain itu ia juga berbulan-bulan 'dipaksa' tinggal dengan para ulama besar Palestina, diantara Asy-Syahid Syeikh Ahmad Yasin.

"Sebelum buta saya hanya menghafal 4 juz Al-Quran, sesudah dibikin buta oleh Israel saya malah bisa menghafal 20 juz," katanya sambil tersenyum.

Penyidik lucu

Di penjara yang sadis itu, kejadian-kejadian lucu juga dialaminya. Suatu kali, sesudah berhari-hari disiksa, seorang penyidik memberi pilihan: 'Kamu pilih dipenjara seumur hidup, atau mati saya bunuh, atau pergi dari Palestina'.

Abu Bakr menjawab, "Saya tidak akan menjawab kamu kecuali dengan mengutip Syeikhul Islam Ibn Taymiyah, “Kalau saya dipenjara maka saya berkhalwat dengan Allah, kalau dibunuh maka saya syahid dan segera bertemu Allah, itu lebih saya sukai, kalau saya diusir maka itu rekreasi dan saya akan kembali ke Palestina'."

Mendengar jawaban itu, si Penyidik dengan penuh semangat mengambil pulpen dan membentak, "Kasih tahu saya, di mana orang yang namanya Ibn Taymiyah ini sekarang berada?!"

Sambil menahan tawa Abu Bakr bilang, bahwa orang itu tinggal di kuburan Damaskus.

Penyidik itu marah, "Bohong kamu! Katakan yang sebenarnya, di mana alamat Ibn Taymiyah?!"

Karena jawabannya tetap sama, Abu Bakr digebukin lagi.

Meskipun penuh dengan kenangan buruk, Abu Bakr masih bisa menyebut satu per satu nama penyidik yang menginterogasi dan menyiksanya.

Ada Mayor Yusi Abu Ghazala dan Abu Nihad, dua orang Yahudi Iraq, Bini, Yahudi Libya, Abram dari Eropa dan Ori yang tak jelas asalnya. "Mereka semua membentak-bentak dan bertanya kepada saya dengan bahasa Arab yang patah-patah," kenangnya.

Ngerjain Zionis

Pada salah satu pengalamannya dipenjara, Abu Bakr sempat ngerjain penyidiknya. Tangannya diikat dengan borgol di belakang dan dipaksa berdiri selama 5 jam. "Badan saya rasanya sudah kaku seperti kayu," tuturnya.

Lalu Abu Bakr berkata kepada penyidiknya, "Baiklah, saya akan menceritakan seluruh riwayat hidup diri saya sejak ibu saya melahirkan saya."

Kemudian penyelidik itu membuka borgol dan mengantarnya ke WC, karena ia minta izin untuk mandi dan shalat dulu. "Badan saya sudah bau pesing karena saya dipaksa kencing di celana," katanya.

Sesudah mandi dengan baju tetap di badan, Abu Bakr melakukan shalat maghrib, isya, shalat sunnat dan shalat witir sampai menghabiskan waktu lebih dari setengah jam.

"Waktu shalat saya membacakan kisah-kisah Bani Israil dalam surat Al-Baqarah. Waktu itu penyidiknya sudah emosi dan menunggu tak sabar sambil merokok dan minum kopi," kisahnya.

"Seusai saya shalat dia menagih ceritanya," kata Abu Bakr, "tapi saya bilang, itu tadi kan sudah saya bacakan ceritanya waktu shalat."

Penyidik yang satu marah sekali dan hendak memukuli lagi. Yang satunya mencegah. Lalu Abu Bakr mulai bercerita. Entah bagaimana keduanya tekun sekali mendengarnya sampai seperti anak kecil mendengar dongeng. "Mereka bilang… terus bagaimana… terus bagaimana… mereka penasaran," kata Abu Bakr sambil terkekeh.

Abu Bakr sengaja memanjang-manjangkan ceritanya. Lalu suatu kali ia minta istirahat. Sampai akhirnya ia kehabisan cerita dan kemudian bilang begini, "Ya itu lah ceritanya. Jadi kesimpulannya, saya nggak tahu kenapa kalian menangkap saya?"
Kedua penyidik itu bangkit lalu memukulinya lagi. "Tapi waktu itu agak lumayan karena tangan saya tidak diikat. Kalau diikat rasanya dipukuli sakit sekali," ujarnya.


“Saya akan buta, maukah jadi istri saya?”

Sekeluarnya ia dari penjara tahun 1982, Abu Bakr sudah menjadi imam dan khatib di sebuah masjid di Khalil-Hebron. Nama masjidnya Al-Mughtaribin (orang-orang yang terusir) di kampung Karmah.

Ia merasa sudah waktunya untuk menikahi seorang perempuan. Kepada keluarganya ia maklumatkan syarat utama untuk menjadi istrinya, perempuan yang berhijab sesuai syari'ah dan rajin berpuasa Senin Kamis.

"Keluarga saya bilang, kamu nggak akan dapat perempuan seperti itu," ujarnya. Namun pada bulan Pebruari 1983 ia mendapatkan perempuan itu lalu melamarnya. Abu Bakr tidak menyebutkan nama istrinya.

Sebelum melamar, Abu Bakr berterus terang kepada dambaan hatinya itu, bahwa penglihatannya lemah. Ia masih bisa melihat secara remang-remang tapi sudah tak bisa lagi menulis dan membaca. “Kalau ditangkap dan disiksa lagi mungkin saya akan buta sama sekali. Maukah jadi istri saya?”

Jawaban gadis itu sungguh di luar dugaan, "Semoga Allah membalas kamu dengan pahala yang banyak." Lalu gadis itu mengutip surat al-Haj ayat 46, "Bukan mata yang buta tetapi Allah yang membutakan mata hati…"

Alhamdulillah, lamarannya diterima, tapi 4 bulan sesudah melamar, Abu Bakr ditangkap lagi. Namun dengan izin Allah mereka tetap bisa melangsungkan pernikahan pada tanggal 9 September 1983.

Pernikahan itu penuh keberkahan dan dikaruniai 5 anak laki-laki dan 3 anak perempuan, Abu Bakr bersyukur kepada Allah karena ia telah mengajarkan kepada mereka aqidah Islam yang benar, mengajari mereka menghafal Al-Quran hingga sekarang 4 orang anaknya yang pertama sudah menjadi hufazh Al-Qur'an.

Kekuatan ruhiyah

Melakukan perjalanan bersama Syeikh Abu Bakr di Indonesia (selama lebih dari sepuluh hari), memberi pelajaran luar biasa berharga. Bahwa ternyata, pekerjaan utama seorang mujahid bukanlah pertempuran-pertempuran dengan senjata.

Yang paling banyak menyita waktu seorang 'alim mujahid seperti Abu Bakr adalah usaha terus menerus untuk taqarrub ila-Allah (menjaga kedekatan dengan Allah), dengan berbagai cara yang dicontohkan Panglima Mujahidin sepanjang zaman, Muhammad Shalallaahu 'alaihi wa sallam.

"Tidak ada kemenangan sejati tanpa pertolongan Allah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana," katanya berbisik memetik ayat Al-Qur'an.

Malam pertama tiba di Jakarta, seorang kawan mentraktirnya makan di sebuah restoran. Sesudah makan Syeikh Abu Bakr mengajak kami shalat 'Isya berjamaah di mushalla restoran yang mungil.

Perkiraan kami sesudah shalat sunnat ba'diyah, kita segera pulang karena malam sudah beranjak larut, dan tamu kita ini masih terlihat letih sesudah berjam-jam duduk di pesawat.

Di luar dugaan, beliau berdiri dan mengisyaratkan kami untuk melaksanakan shalat tarawih berjama'ah. Ayatnya lumayan panjang-panjang dan bacaannya menggetarkan dada. Bacaan Al-Qur'an dengan lagu yang sederhana, tapi dengan tekanan-tekanan suara seseorang yang begitu akrab dengan Penciptanya.

Setuntas shalat tarawih dan witir 11 rakaat, barulah saya menyadari, dadanya basah oleh air mata yang menetes-netes dari jenggotnya. Subhanallaah.

Keesokan subuhnya, waktu sahur kami lagi-lagi disentakkan oleh usaha gigihnya untuk taqarrub ila-Allah. Seusai menyantap hidangan sahur, saya dan seorang kawan asyik ngobrol melepas rindu. Tiba-tiba Syeikh Abu Bakr bertanya, “Berapa menit lagi adzan subuh?” Kami jawab sekitar 5 menit lagi. Ia lalu mengingatkan bahwa ini waktu-waktu terbaik untuk memohon ampun kepada Allah. Seketika kami berhenti ngobrol dan ikut beristighfar.

Perjalanan di atas mobil selalu dilantuni oleh senandung ayat-ayat Al-Quran dan doa-doa. Salah satu doa favoritnya, “Bismillahi nasiiru, wa bismillaahi nuqaatil, dengan nama Allah kami melakukan perjalanan dan dengan nama Allah kami berperang!”

Setiap kali naik pesawat, beliau melafalkan doa dengan suara yang cukup bisa didengar oleh para penumpang di sekitarnya. Seakan-akan mengajak semua orang untuk ingat bahwa hanya kepada Allah saja mereka seharusnya mempasrahkan nyawa dan keselamatannya. Beberapa kepala tak tahan menoleh, ingin melihat wajah orang yang membaca doa-doa safar dengan suara tegas itu.

Setiap kali naik pesawat juga, sejak lepas landas sampai menjelang mendarat lagi, waktu dihabiskannya untuk shalat dhuha.

Suatu malam, mobil yang kami kendarai terjebak macet hebat ala Jakarta. Hampir dua jam kami di atas kendaraan padahal baru membatalkan puasa hanya dengan segelas es buah di rumah Ustadz Arifin Ilham.

Seperti biasa Syeikh Abu Bakr tidak mengeluh sama sekali baik soal makanan, soal tempat tidur (selama lebih dari 10 hari perjalanan, hanya dua malam Syeikh Abu Bakr tidur di atas ranjang, sisanya di matras atau karpet sederhana), atau soal transportasi. Sedangkan kami, para pengantarnya, sudah gelisah setengah mati karena perut tamu pasti sudah keroncongan.

Satu-satunya yang membuat beliau gelisah adalah waktu 'Isya yang sudah masuk.

Ketika akhirnya kami tiba di restoran yang cukup nyaman, kami cepat-cepat memesan makanan dan minuman. Namun beliau mengajak kami shalat dulu di mushalla restoran. Kami para pengantarnya sudah saling senyum, membayangkan kejadian berikutnya. Ternyata benar dugaan kami, sesudah shalat 'Isya, kami langsung diajaknya shalat tarawih dan witir. Peduli amat dengan perut yang sudah keroncongan dan hidangan lezat yang sudah terhidang di meja. Allah nomor satu! Mantaaap!

Di sela shalat-shalat, tilawah Al-Qur'an dan doa-doa yang banyak itulah saya sempat memancing cerita-ceritanya yang luar biasa tentang keberhasilan demi keberhasilan pasukan mujahidin merebut Gaza, mengusir Israel dan kaum munafiqin yang bersekongkol dengannya, dan tentang keyakinannya bahwa Masjidil Aqsa akan dibebaskan dalam waktu tidak lama lagi.

Dalam taushiyahnya di berbagai tempat di Indonesia, Syeikh Abu Bakr Al-'Awawidah mengharapkan saudara-saudaranya di Indonesia untuk ikut berjihad membebaskan Masjidil Aqsa yang masih terjajah.

"Kalau tak bisa dengan dirinya, dengan hartanya. Kalau tak bisa dengan hartanya, dengan doa-doa sehabis shalat tahajjud dan shalat fardhu. Kalau tak bisa dengan doa-doa, dengan mendidik anak-anak menjadi generasi Al-Quran dan As-Sunnah yang akan ikut berjihad membebaskan negeri-negeri Muslim yang terjajah, terutama Masjidil Aqsa dan Palestina dari penjajahan Zionis Israel."
Sementara menunggu kita semua ikut dalam kafilah itu, kata beliau, kami bangsa Palestina akan terus bersabar dan bertahan di jalan jihad.

0 comments